Pertanyaan dari Fauziana:

Bismillah
Ustadz, didalam kitab Nawaqidhul Islam, pada kalimat akhir halaqoh 21 disebutkan bahwa Orang yang meragukan tentang kekufuran orang-orang musyrikin, maka dia kafir. dalam kalimat sebelumnya juga disebutkan bahwa mengatakan mungkin mereka kafir dan mungkin mereka muslim, itu namanya ragu-ragu.

pertanyaannya ustadz :
1. apakah yg dimaksud orang-orang MUSYRIKIN disini termasuk juga didalamnya para dukun, tukang sihir, para pembuat jimat, serta orang-orang yg meminta tolong kepada mereka…??

2. jika demikian, bagaimana cara kita bermuamalah dgn mereka…?? apakah sama dgn kita bermuamalah dgn orang-orang kafir pada umumnya…?? jika mereka meninggal, apakah kita punya kewajiban untuk mengurus jenazah mereka…??

Mohon pencerahannya ustadz
jazaakallahu khoyron

Jawaban:

Telah dijawab melalui radio streaming HSI pada tanggal 12-02-2017/15 Jumadil Awwal 1438

Berikut adalah transkrip jawaban dan link audio jawaban:

==============================

Di dalam kitab Nawaqidul Islam pada kalimat akhir halaqah 21 disebutkan bahwa: orang yang meragukan tentang kekufuran orang-orang musyrikin maka dia kafir,  dalam kalimat sebelumnya juga disebutkan bahwa mengatakan mungkin mereka kafir dan mungkin mereka muslim itu namanya ragu-ragu.

Pertanyaannya apakah yang dimaksud orang-orang musyrikin di sini termasuk juga di dalamnya para dukun, tukang sihir, para pembuat jimat serta orang-orang yang meminta tolong kepada mereka?

Kita katakan bahwasanya yang dimaksud dengan orang kafir yang tidak boleh kita ragu tentang kekafirannya seperti yang Allah Subhanahu Wa Ta’ala sebutkan di dalam Alquran, seperti misalnya : ahlul kitab demikian pula orang-orang musyrikin yang mereka menyembah selain Allah ‘Azza wa Jalla

Seperti misalnya : penyembah matahari, ya penyembah bulan, penyembah Jin,  penyembah pohon.

Maka mereka adalah orang-orang musyrikin, yang tidak boleh sekali-kali seorang muslim ragu bahwasanya mereka ini kekufuran orang-orang yang melakukan demikian, tidak boleh kita meragukan kekufuran mereka, mengatakan bahwasanya mungkin mereka kafir atau mungkin mereka tidak kafir. Seorang muslim mengkafirkan orang yang Allah kafirkan, mengkafirkan orang yang Allah kafirkan dan tidak boleh ada keraguan didalamnya.

Adapun para tukang sihir maka jelas mereka adalah orang-orang telah melakukan kekufuran yang besar, karena tukang sihir ini tidak mungkin bisa melakukan sihirnya kecuali setelah dia melakukan sebuah kekufuran atau lebih, yang membuat ridho syaitan, oleh karena itu tukang sihir ini dia telah keluar dari agama Islam, demikian pula para dukun ini semisal dengan tukang sihir bekerjasama dengan syaitan ya dalam melakukan perdukunannya, orang-orang  yang meminta tolong kepada mereka seperti seseorang yang datang kepada dukun atau datang kepada tukang sihir, maka ini tidak langsung kita hukumi, bahwa orang yang melakukannya adalah orang yang kafir, karena ada diantara mereka yang datang kepada dukun dan tidak sampai pada derajat kekafiran, tapi jelas apa yang dia lakukan ini adalah kemaksiatan, ya sebuah pelanggaran dalam agama, yang sudah kita sebutkan bahwasanya ada diantara mereka yang terkena ancaman tidak diterima shalatnya selama 40 (Empat Puluh) hari menunjukan bahwasanya dia tidak kafir tapi mendapatkan hukuman yaitu tidak diterima shalatnya selama 40 (Empat Puluh) hari.  Oleh karena itu orang yang meminta tolong kepada mereka tidak serta merta adalah kita katakan bahwasanya perbuatan dia ini adalah perbuatan yang kufur, tapi jelas perbuatan yang membahayakan aqidah seorang muslim.

Jika demikian bagaimana cara kita bermuamalah dengan mereka, apakah sama dengan kita bermuamalah dengan orang-orang kafir pada umumnya?

Jika mereka meninggal apakah kita punya kewajiban untuk mengurus jenazah mereka?

Kalau itu adalah dukun atau tukang sihir maka jangan kita mengurus jenazah mereka atau jangan kita menyalatkan jenazah mereka. Lebih tepatnya jangan kita menyalatkan mereka. Adapun mengurus maka para ulama menjelaskan seandainya ada orang yang kafir meninggal dunia maka hanya di kuburkan jenazahnya, ini adalah sebatas pengurusan kita kepada orang-orang yang kafir jadi di kuburkan jenazahnya supaya tidak mengganggu ya manusia yang lain, di kuburkan jenazah dan tanpa kita doakan tanpa kita shalatkan.

Wallahu ta’ala a’lam.

Materi audio ini disampaikan di dalam Group WA Halaqah Silsilah Ilmiyah, HSI AbdullahRoy

==============================

Tim Transkrip HSI: Setia Hadi (ARN152-1110)

Silahkan downlod audio jawaban di tautan berikut:

https://goo.gl/MyMvIj

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here