Pertanyaan dari Fairus AbdulAziz Badubbah:

assalamu‘alaikum warahmatullah wabarakatuh, ustadz disebutkan bahwa pembatal keislaman tetap membuat seseorang kufur walaupun dilakukan dalam keadaan bercanda, kecuali jika dilakukan dalam keadaan terpaksa atau dalam tekanan misalnya terancam terbunuh, namun apabila seseorang yang terancam terbunuh tadi lebih memilih untuk tetap tidak mau mencela Allah subhana wa ta‘ala dan rasul-Nya shalallahu ‘alaihi wasallam, sehingga akhirnya dia terbunuh, apakah berdosa baginya karena lebih rela mati terbunuh dari pada mencela Allah subhana wa ta‘ala sedangkan jika dia berpura2 mencela dia bisa selamat?

Jawaban:

Telah dijawab melalui radio streaming HSI pada tanggal 12-02-2017/15 Jumadil Awwal 1438

Berikut adalah transkrip jawaban dan link audio jawaban:

==============================

Pertanyaan dari Fairuz Abdul Aziz, Ustadz, disebutkan bahwa pembatal keislaman tetap membuat seseorang kufur walaupun dalam keadaan bercanda, kecuali jika dilakukan dalam keadaan terpaksa atau dalam tekanan misalnya; terancam terbunuh, namun apabila seseorang yang terancam terbunuh tadi lebih memilih untuk tetap tidak mau mencela Allah Subhanahu wa Ta’ala dan Rasulnya Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam sehingga akhirnya dia terbunuh, apakah berdosa baginya karena lebih rela mati terbunuh daripada mencela Allah Subhanahu Wa Ta’ala, sedangkan Jika dia berpura-pura mencela dia bisa selamat?

Ya dalam keadaan terpaksa seperti yang sudah kita sebutkan, maka seseorang mendapatkan ruksyah, mendapatkan keringanan untuk mengucapkan ucapan kufur dengan syarat hatinya masih tenang dengan keimanan dan sudah kita sebutkan penjelasannya, kemudian lalu bagaimana apabila seseorang memilih untuk bersabar, artinya apa? artinya dia tetap tidak mau mengucapkan ucapan kufur tersebut dan bersabar sehingga dia terbunuh atau disiksa dengan siksaan yang keras.

kita katakan bahwasanya yang kedua itu afdhal, yang kedua itu afdhal itu seseorang bersabar dan bersabar untuk menghadapi siksaan yang berat atau bahkan dibunuh karena tetap tidak mau mengucapkan ucapan kufur, maka ini perkaranya adalah afdhal lebih utama, dan yang pertama ini adalah ruksyah keringanan. Seandainya dia mengucapkan yang penting hatinya tetap tenang dalam keimanan maka diperbolehkan, ya diperbolehkan dan ini adalah sebuah keringanan bagi seorang muslim.

Tapi seandainya dia ingin bersabar dan tidak mengucapkan ucapan tersebut meskipun harus terbunuh, disitupun harus disiksa dan lain-lain, maka ini lebih afdhal, lebih baik ya, dan contohnya adalah Bilal, muadzinnya  Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam ketika dipaksa untuk mengucapkan ucapan yang kufur, maka dia tidak mau mengucapkan ucapkan tersebut dan lebih rela untuk disiksa sehingga disiksa beliau Radhiyallahu ‘Anhu, dia ditaruh batu yang besar di atas badan beliau dalam keadaan panas ya, ini adalah ujian yang berat bagi beliau Radhiyallahu ‘Anhu akan tetapi beliau bersabar dan tidak mau mengucapkan ucapan yang kufur seperti yang diinginkan oleh orang-orang musyrikin.

Wallahu ta’ala a’lam.

Materi audio ini disampaikan di dalam Group WA Halaqah Silsilah Ilmiyah, HSI AbdullahRoy

 

==============================

Tim Transkrip HSI: Setia Hadi(ARN152-1110)

Silahkan downlod audio jawaban di tautan berikut:

https://goo.gl/1uJwtA

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here